Jumat, 23 Oktober 2009

CINTA TANAH AIR PADA GENERASI MUDA

Di era globalisasi seperti sekarang ini banyak budaya asing yang masuk ke negeri kita ini,seperti cara berpakaian,gaya hidup dan lain-lain. Memang dengan saling bertukar budaya kita dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari suatu negara, tetapi yang jadi masalah adalah jika budaya yang masuk itu adalah hal-hal yang tidak baik. Seperti gaya hidup kapitalis negara-negara maju. Itu semua dapat berakibat buruk pada masyarakat kita khususnya generasi muda. Karena untuk sementara ini generasi muda Indonesia beranggapan bila dapat mengikuti budaya barat berarti dia telah menjadi sebagian manusia Indonesia yang modern, tanpa memandang baik buruk dari budaya tersebut, tanpa adanya filter agama dari mereka.
Seperti kita diketahui bersama, kaum muda adalah kaum yang haus akan pengalaman, jadi mereka selalu ingin mencoba hal-hal baru yang ada dihadapan mereka. Tapi yang memprihatinkan adalah para generasi muda itu malah menjadi cinta budaya negara lain dan tidak mencintai budayanya sendiri. Seperti seorang remaja yang saya tanya tentang musik. Dia lebih suka kalau mendengarkan lagu-lagu band luar negeri dari pada dalam negeri karena menurut dia, lagu-lagu band luar negeri lebih bagus dan gaul daripada lagu-lagu band Indonesia, padahal band-band Indonesia tidak kalah bagus dari band-band luar negeri.
Dalam urusan berpakaian pun mereka lebih suka pakaian-pakaian import dari pada buatan dalam negeri. Mereka beranggapan pakaian import lebih gaya dan bagus kwalitasnya daripada yang dibuat di Indonesia. Mereka tidak tahu kalau bahan baku pembuatan pakaian itu sebenarnya berasal dari Indonesia yang di eksport ke luar negeri, yang artinya tanpa mereka sadari sebetulnya mereka masih tetap memakai produk buatan dalam negeri.
Di era orde baru dulu, kita sering mendengar slogan “CINTAILAH PRODUK DALAM NEGERI” slogan yang dicananang oleh bapak Soeharto sewaktu menjabat sebagai presiden Indonesia. Pada waktu itu banyak masyarakat yang memilih produk import dari pada buatan dalam negeri. Bahkan di kalangan orang-orang kaya, lebih memilih Dolar untuk membeli apa yang mereka inginkan dan meninggalkan mata uang asli Indonesia yaitu Rupiah. Mereka juga hidup dengan pola kebarat-baratan, seperti cara berpakaian, cara berbicara, dan bertingkah laku. Mereka akan merasa lebih percaya diri jika menjalani hidup seperti orang Barat dari pada gaya hidupnya yang asli indonesia.
Jauh sebelum zaman orde baru sebenarnya para pemuda sudah mempunyai sifat cinta tanah air, buktinya adalah adanya Sumpah Pemuda. Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda melakukan sumpah untuk menyatakan satu tekad bahwa mereka mencintai tanah airnya yaitu Indonesia. Dapat kita baca dalam teks Sumpah Pemuda yaitu :
1. Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra-putri Indonesia berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra-putri Indonesia manjunjung tinggi bahasa prsatuan, bahasa Indonesia.
Dari kata-kata itu sudah terlihat bagaimana pemuda Indonesia saat itu sangat mencintai negaranya, berbeda jauh dengan sekarang, mereka seakan acuh tak acuh dengan negaranya. Lalu pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, para pemuda dengan suka rela bertempur melawan penjajah, tidak jarang mereka memberikan apa yang mereka punya untuk menolong rekan mereka yang berjuang merebut kemerdekaan, dan tidak sedikit pula yang harus gugur dalam perang. Bagi para pemuda saat itu hanya ada satu motto yang menggelora di dalam hatinya yaitu “MERDEKA ATAU MATI” yang memberikan semangat untuk berjuang merebut Ibu Pertiwi.
Kita sebagai kaum muda harusnya mencontoh para generasi 45. Bukan berarti harus mencontoh berperang melawan penjajah, namun mencontoh semangat cinta tanah air dari mereka. Apa kita harus berperang seperti dahulu lagi untuk menumbuhkan cinta tanah air kita ? Tentu tidak mungkin untuk saat ini. Sebenarnya kita bisa menunjukan cinta tanah air kita dengan cara yang bermacam-macam. Seperti belajar dengan baik dalam menggapai cita-cita untuk mengisi kemerdekaan negara tercinta ini, atau menunjukan sikap peduli pada negara dengan tidak acuh pada sekitar kita, melindungi lingkungan hidupnya dalam hal ini alam semesta, serta mau menjaga kekayaan bangsa dan negara tercinta ini yang sudah sekian lama dibangun oleh para pendahulu kita dan dimana hal ini sangat diidam-idamkan masyarakat demi kemajuan bangsa. Sehingga jelaslah tidak cukup hanya dengan mengikuti acara-acara seperti peringatan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus saja.
Kita dapat melihat disetiap kecamatan, kelurahan atau bahkan setiap RT bersemangat mengadakan peringatan tujuhbelasan. Coba kita tanya apa yang para panitia dapat dari acara itu? Apakah dengan begini kita sudah dapat dikatakan cinta tanah air? Tentu tidak cukup hanya dengan begitu saja. Cinta tanah air bukanlah sebuah acara, habis tanggal 17 hilang lagi, yang tersisa hanya sampah-sampah yang berserakan. Cinta tanah air adalah sikap diri pribadi kita yang merasa bangga, yang datang dari sanubari, memberikan segala-galanya pada negeri tercinta ini.
Akhir-akhir ini kita mempunyai dua sisi contoh nyata bukti perilaku generasi muda Indonesia. Satu sisi mereka masuk golongan warga masyarakat yang awalnya sangat kita banggakan karena ketaatannya dalam beragama, namun pada akhirnya mereka dengan pemahaman yang keliru telah membinasakan bangsanya sendiri dengan dalih memusuhi Amerika. Namun mengapa yang dibunuh justru orang-orang Indonesia, baik pelakunya maupun sasarannya. Dimana letak cinta tanah air pada mereka yang telah dengan tanpa dosa menghancurkan negeri ini dengan mengatasnamakan agama, yang sebetulnya itu merupakan pemahaman mereka terhadap agama yang keliru. Karena apa yang dilakukan sama sekali tidak ada dalam ajaran agama Islam yang selalu digembar-gemborkannya. Sementara satu sisi yang lain mereka dengan mengorbankan jiwa dan raganya untuk memberantas terorisme di negeri tercinta ini. Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang semudah membalikkan tangan, melainkan banyak sekali resiko yang diembannya. Memberantas teroris, nyawa adalah taruhannya. Namun mereka dengan gigih menyerang para teroris tanpa memandang bahaya yang sangat mengancam keselamatan dirinya.
Jiwa pengorbanan sisi yang kedua inilah yang menunjukkan generasi muda yang sangat mencintai tanah airnya. Mereka rela berkorban demi bangsa dan negaranya di masa yang akan datang. Mereka tidak rela bangsa ini diobok-obok oleh sekelompok manusia yang tidak bertanggung jawab. Tanpa adanya rasa takut sedikitpun ada pada dirinya, nyawa yang merupakan miliknya yang sangat berharga tidak terpikirkan. Maju terus menghadang kekuatan dan kegigihan para teroris dengan bermodal tekad membela tanah air yang sangat dicintainya.
Dimana sementara yang dapat kita lihat sehari-hari adalah generasi muda yang memiliki segudang kemalasan akibat dari biasa tersedianya segala fasilitas yang sangat memudahkan kehidupan mereka. Memang mencintai tanah air tidak harus selalu harus dengan mempertaruhkan nyawa. Namun paling tidak ada rasa rela berkorban untuk meluangkan waktu, meluangkan tenaga, pikiran, mungkin juga harta. Dengan generasi muda yang nota bene senang bermalas-malasan, mungkinkah dia mau dan mampu untuk rela berkorban seperti yang telah terurai di atas ?
Semua ini butuh waktu untuk menjawab serta membuktikan kepada kita semua. Karena hal ini tidak bisa hanya dijawab secara lisan saja, melainkan perbuatan nyata. Sementara perbuatan nyata ini, bukan barang yang mudah untuk dilakukan. Contoh, yang biasa pakai produk luar negeri harus rela beralih pakai produk dalam negeri dalam mengkonsumsi apapun; yang biasa tidak memperhatikan pelestarian alam Indonesia, harus mulai memperhitungkan pelestariannya; yang biasa malas belajar, harus mulai dasar diri belajar demi menggapai cita-cita.
Semua itu merupakan bentuk realisasi generasi muda dalam mencintai tanah airnya. Mereka harus bisa mengisi kemerdekaan Indonesia di masa yang akan datang dengan hal-hal yang positif. Negara yang disegani oleh negara lain adalah negara yang maju. Sementara negara yang maju adalah negara yang generasi mudanya berkuaitas. Generasi muda yang berkualitas adalah generasi yang rela serta gigih mengorbankan kepentingan dirinya demi kepentingan bangsa dan masyarakat banyak di sekitarnya. Dengan perilaku seperti itu, Insyaallah Indonesia akan disegani oleh negara lain, dan tentunya tidak ada lagi yang berani mengobok-obok demi kepentingan pribadi.
Pemerintah sudah mengadakan program pendidikan yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi muda, yaitu dengan diadakannya kegiatan Pramuka di setiap jenjang pendidikan. Dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Lanjutan tingkat atas. Dari kegiatan Pramuka, generasi muda Indonesia dapat terbentuk dengan alami. Diantaranya, tumbuhnya rasa rela berkoban demi sesama, munculnya rasa tanggung jawab yang tinggi, serta terpupuknya rasa mandiri dalam meniti masa depannya tanpa rasa ketergantungan dengan orang lain. Sayangnya kegiatan Pramuka yang sebagus itu, tidak banyak diminati oleh generasi muda. Kecuali jika diwajibkan oleh jenjang sekolah tertentu. Padahal kegiatan Pramuka sangatlah cocok untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air pada diri generasi muda.
Dengan demikian sebetulnya pihak pemerintah sudah tidak kurang-kurangnya membentuk generasi muda yang cinta tanah air, namun dengan segala keterbatasannya generasi muda lebih cinta pada negara Barat yang dianggap lebih gaul dan pola hidup yang katanya lebih praktis. Jiwa – jiwa ketimuran sudah sangat jauh ditinggalkan. Dari sisi keluarga pun sudah sangat mengajarkan cinta tanah air itu. Semua itu kembali lagi pada generasi mudanya, maukah berkorban demi kemerdekaan Indonesia ? Jawabnya tidak dapat kita lihat secepat menganggukkan kepala, namun kita butuh waktu untuk pembuktian ini. Marilah kita tunggu jawaban dari generasi muda Indonesia tercinta ini untuk membuktikan rasa cinta tanah air mereka. MERDEKA !!!!!!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar